Tampilkan postingan dengan label knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label knowledge. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2009

MENJADI AYAH ASI

      Menjadi ayah ASI????mungkin diantara anda pernah mendengar atau membaca buku yang membahas tentang topic tersebut atau mungkin saja diantara anda merasa bingung dan bahkan bertanya-tanya dengan kalimat tersebut.   
      Menjadi ayah ASI bukan berarti ayah yang memberikan ASI secara langsung kepada bayinya tanpa perantara atau tugas ibu dalam memberikan ASI digantikan oleh ayah, karena pemberian ASI secara langsung kepada seorang bayi tanpa perantara merupakan tugas utama seorang ibu. Lantas apa maksudnya??? Dan bagaimana caranya menjadi ayah ASI???
      Sebelum saya menguraikankannya, terlebih dahulu saya akan mengajak anda yang kelak akan berperan sebagai seorang ayah atau bahkan yang saat ini sudah menjadi seorang ayah untuk mengetahui keunggulan ASI. Mengapa demikian??? Karena akhir-akhir ini banyak orang tua yang lebih memilih memberikan susu formula dibanding ASI, bahkan sampai berlomba-lomba memberikan susu formula yang termahal kepada bayinya. Selain itu, karena alasan pekerjaan, para orang tua begitu tega memberikan bayinya susu formula, yang menurut penelitian komposisi yang terkandung dalam susu formula tidak sesuai dengan kebutuhan anak manusia untuk tumbuh kembangnya. 
     Adapun keunggulan ASI adalah ASI mengandung nutrisi yang optimal baik kuantitas dan kualitasnya, ASI meningkatkan kesehatan bayi, ASI meningkatkan kecerdasan bayi, ASI meningkatkan jalinan kasih sayang ibu-anak. Jadi, ASI merupakan nutrisi terlengkap bagi seorang bayi yang tidak ada saingannya.
Perlu anda ketahui bahwa komposisi susu setiap spesies disesuaikan untuk tumbuh kembang anaknya masing-masing. Jadi, susu kucing untuk anak kucing, susu sapi untuk anak sapi, susu ibu untuk anak manusia.
      Lalu, apakah komposisi susu seorang ibu sesuai dengan kebutuhan semua bayi untuk tumbuh-kembangnya??? Ternyata, meskipun sama-sama satu spesies. Namun komposisi susu setiap ibu berbeda-beda, bukan karena makanan berlainan dan perbedaan etnik atau bukan karena financial dan keadaan tubuh ibu, melainkan karena kemampuan usus bayi itu sendiri dalam menyerap nutrisi yang terkandung dalam ASI. 
       Baiklah, saatnya saya mengajak anda untuk kembali ke topic awal yaitu menjadi ayah ASI.
Maksud dari menjadi ayah ASI adalah seorang ayah ikut serta dalam mendukung dan membantu keberhasilan dalam memberikan ASI eksklusif atau proses menyusui, bukan ayah yang memberikan ASI kepada bayinya.
     Adapun cara untuk menjadi ayah ASI, antara lain :
a. Ayah menyendawakan bayi.
b. Ayah memandikan bayi.
c. Ayah bermain, bergurau dan mendendangkan bayi.
d. Ayah mengganti popok.
e. Ayah memijat bayi.
f. Ayah menggendong bayi.

Reference : dr. Hj. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC. 2008. Inisiasi Menyusui Dini Plus ASI Eksklusif. Jakarta : Pustaka Bunda. 



KETUBAN PECAH DINI

I. DEFINISI.
    Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan [1].
      Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan mulai dan ditunggu 1 jam belum terjadi inpartu [2].
      Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu [3]
      Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.
       Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.  
 
II. PENYEBAB
       Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur, merokok, dan perdarahan selama kehamilan. Beberapa faktor risiko dari KPD [1] :
1. Inkompetensi serviks (leher rahim)
2. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
3. Riwayat KPD sebelumya
4. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
5. Kehamilan kembar
6. Trauma
7. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm)>
8. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis 
       Tambahan faktor risiko dari KPD [2] :
1. Faktor keturunan : serum ion CU rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik.
2. Meningkatnya enzim proteolitik.
3. Sefalopelvik disproporsi.
4. Overdistensi uterus.
5. Kelainan letak : lintang, sungsang.

III. TANDA DAN GEJALA
       Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara.
      Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
        Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat dilakukan dengan kertas nitrazine, kertas ini mengukur pH (asam-basa). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni. Pemeriksaan melalui ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi jumlah air ketuban yang terdapat di dalam rahim.

V. KOMPLIKASI KPD
       Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
      Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm. Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.

VI. PENANGANAN KETUBAN PECAH DI RUMAH
1. Apabila terdapat rembesan atau aliran cairan dari vagina, segera hubungi dokter atau petugas        kesehatan dan bersiaplah untuk ke Rumah Sakit
2. Gunakan pembalut wanita (jangan tampon) untuk penyerapan air yang keluar
3. Daerah vagina sebaiknya sebersih mungkin untuk mencegah infeksi, jangan berhubungan               seksual atau mandi berendam
4. Selalu membersihkan dari arah depan ke belakang untuk menghindari infeksi dari dubur
5. Jangan coba melakukan pemeriksaan dalam sendiri

VII. TERAPI
         Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah sakit. Dokter kandungan akan mendiskusikan rencana terapi yang akan dilakukan, dan hal tersebut tergantung dari berapa usia kehamilan dan tanda-tanda infeksi yang terjadi. Risiko kelahiran bayi prematur adalah risiko terbesar kedua setelah infeksi akibat ketuban pecah dini. Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.
          Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah apabila kehamilan sudah memasuki fase akhir. Semakin dini ketuban pecah terjadi maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan kontraksi. Jika tanggal persalinan sebenarnya belum tiba, dokter biasanya akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan menunggu selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa meningkatkan resiko infeksi.
      Indikasi untuk melakukan induksi pada KPD [2] :
a. Pertibangan waktu dan berat janin dalam rahim.
- Pertimbangan waktu : setelah pecah 6 jam, setelah pecah 12 jam, setelah pecah 24 jam.
- Berat janin sebaiknya > 2000 gram.
b. Terdapat tanda infeksi intrauterine.
- Temperature naik diatas 380C.
- Terdapat tanda infeksi melalui hasil : pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan kultur air ketuban.
      Apabila paru bayi belum matang dan tidak terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka istirahat dan penundaan kelahiran (bila belum waktunya melahirkan) menggunakan magnesium sulfat dan obat tokolitik. Apabila paru janin sudah matang atau terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka induksi untuk melahirkan mungkin diperlukan.
       Pemberian tokolitik berfungsi untuk mengurangi kontraksi uterus [2].
      Penggunaan steroid untuk pematangan paru janin masih merupakan kontroversi dalam KPD. Penelitan terbaru menemukan keuntungan serta tidak adanya risiko peningkatan terjadinya infeksi pada ibu dan janin. Steroid berguna untuk mematangkan paru janin, mengurangi risiko sindrom distress pernapasan pada janin, serta perdarahan pada otak. 
      Pemberian kortikosteroid berupa betametason 12 mg IM dalam 2 dosis setiap 12 jam atau deksametason 6 mg IM dalam 4 dosis setiap 6 jam. Peringatan jangan berikan kortikosteroid jika ada infeksi [3].  
       Penggunaan antibiotik pada kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang pertama adalah penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah kejadian KPD preterm. Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis bahwa KPD dapat disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm dapat menyebabkan infeksi. Keuntungan didapatkan pada wanita hamil dengan KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses kelahiran diperlambat hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitis serta sepsis neonatal (infeksi pada bayi baru lahir). 
      Jika ketuban telah pecah > 18 jam, berikan antibiotic profilaksis untuk mengurangi risiko infeksi streptokokus grup B [3] berupa :
- Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam.
- Atau penisilin G 2 juta unit IV setiap 6 jam sampai persalinan.

VIII. PENCEGAHAN
       Beberapa pencegahan dapat dilakukan namun belum ada yang terbukti cukup efektif. Mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau awal triwulan ketiga dianjurkan.

Reference :
1. Klik Dokter Menuju Indonesia Sehat. 2008. Kebidanan dan Kandungan : Ketuban Pecah Dini.         Jakarta : www.klikdokter.com
2. Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obgin       dan KB. Jakarta : EGC.
3. Prof. Dr. Abdul Bari Saifuddin, SpOG, MPH, dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan               Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.